Refleksi Keilmuan dan Keagamaan

integrasi ilmu dan agama

INTEGRASI ILMU DAN AGAMA

Posted by ichien86 pada April 11, 2008

Agama Islam menempatkan ilmu dan ilmuwan dalam kedudukan yang tinggi sejajar dengan orang-orang yang beriman(QS Al-Mujadalah: 11). Hal ini bisa dilihat dari banyaknya nash baik al-Quran maupun al-Sunah yang menganjurkan manusia untuk menuntut ilmu, bahkan wahyu yang pertama kali turun adalah ayat yang berkenaan dengan ilmu yakni perintah untuk membaca seperti yang terdapat dalam QS Al-Alaq yang artinya sebagai berikut:
”Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS Al-Alaq [96]: 1 – 5)

Umat Islam mendapatkan semangat yang luar biasa karena banyak sekali perintah atau nash yang menyinggung masalah keilmuan. Hal ini bisa dilihat pada masa awal Islam, banyak sekali kegiatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, bahkan sumber itu berasal dari agama dan peradaban yang lain. Para ulama banyak menerjemahkan buku-buku dari Yunani dan Persia (Taufik Abdullah, 2002 : 237). Namun usaha yang dilakukan tidak terbatas sebagai penerjemah saja, tapi juga memberikan tambahan berupa saran dan kritik terhadap ilmu yang dipelajari dari luar tersebut dan juga mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah ada, sehingga memunculkan suatu teori baru.
Agama dan ilmu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa mengamati alam dan menggunakan akal (QS Al-Nisa: 82), yang mana kedua hal ini merupakan landasan untuk membangun ilmu pengetahuan. Perintah mengamati berbagai fenomena alam menuntun manusia untuk berpikir secara empiris. Dan penggunaan akal sebagai dasar dalam berpikir secara rasional.
Apabila ilmu dan agama dipisahkan maka akan terjadi mala petaka seperti teknologi nuklir yang digunakan sebagai senjata perang; penggunaan bahan bakar minyak, dimana nantinya akan menghancurkan peradaban manusia itu sendiri. Sejarah telah membuktikan bahwa pemisahan ilmu pengetahuan dari agama telah menyebabkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki. Keimanan harus dikenali melalui ilmu pengetahuan, keimanan tanpa ilmu pengetahuan akan mengakibatkan fanatisme dalam kemandekan. Ibn Rusyd (2005) merupakan ilmuwan muslim pertama yang menggunakan metode integralistik-teosentrik.
Dalam perkembangan keilmuan Islam, terdapat pengelompokkan disiplin ilmu agama dengan ilmu umum. Hal ini secara implisit menunjukkan adanya dikotomi ilmu pengetahuan. Kondisi seperti ini terjadi mulai abad pertengahan sejarah Islam hingga sekarang. Pada saat itu ada sikap penolakan terhadap ilmu-ilmu yang bersumber dari penalaran akal seperti ilmu filsafat, ilmu matematika dan lain-lain(Abudin Nata, 2005 : 115). Sikap ini muncul akibat perbedaan pemikiran yang menimbulkan adanya golongan-golongan dalam Islam. Sehingga umat Islam pada saat itu mulai meninggalkan ilmu-ilmu yang dikategorikan dalam ilmu umum (ilmu dunia) dan mengakibatkan umat Islam mengalami kemunduran dalam berbagai bidang.
Dalam konteks Indonesia, dikotomi ilmu umum dan ilmu agama malah sudah terlembagakan. Hal ini bisa dilihat dari adanya dua tipe lembaga pendidikan yang dinaungi oleh departemen yang berbeda. Lembaga pendidikan yang berlabel agama dibawah naungan DEPAG sedangkan lembaga pendidikan yang umum berada dibawah DEPDIKNAS. Pandangan masyarakat terhadap kedua tipe lembaga pendidikan ini mengisyaratkan secara implisit bahwa ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum memang harus dipisah.
Seiring dengan perkembangan zaman, hubungan antara ilmu dan agama mengalami perubahan. Hubungan yang dimaksud adalah integrasi dan sekulerisasi. Pihak yang menginginkan integrasi, mengusulkan agar ilmu dan agama disatukan kembali, karena telah mengakibatkan banyak sekali bencana kemanusiaan. Sedangkan pihak yang mengusulkan adanya sekulerisasi dalam kehidupan, menginginkan seluruh segi kehidupan dipisahkan dari agama. Sebagian cendekiawan muslim mengancam akan mengislamkan sains modern dengan mencocokkannya dengan ayat-ayat Al-Quran (Nasim But, 1996 : 46).
Upaya integrasi ilmu dan agama di Indonesia telah diupayakan oleh para pemikir muslim dan penentu kebijakan. Sebagai contoh adanya upaya untuk merubah lembaga pendidikan tinggi Islam (IAIN) menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu agama melainkan juga mempelajari ilmu-ilmu umum, sehingga beberapa IAIN telah dirubah menjadi UIN. Mau tidak mau dalam mata kuliah UIN harus mengandung mata kuliah ilmu pengetahuan umum dan mendirikan fakultas non-agama Islam.
Para cendekiawan muslim berusaha keras dalam mengintegrasikan kembali ilmu dan agama. Upaya yang pertama kali diusulkan adalah islamisasi ilmu pengetahuan. Upaya “islamisasi ilmu” bagi kalangan muslim yang telah lama tertinggal jauh dalam peradaban dunia modern, memiliki dilema tersendiri. Dilema tersebut adalah apakah akan membungkus sains Barat dengan label “Islami” atau “Islam”? Ataukah berupaya keras mentransformasikan normativitas agama, melalui rujukan utamanya Al-Qur’an dan Hadits, ke dalam realitas kesejarahannya secara empirik? Kedua-duanya sama-sama sulit jika usahanya tidak dilandasi dengan berangkat dari dasar kritik epistemologis. Dari sebagian banyak cendikiawan muslim yang pernah memperdebatkan tentang Islamisasi ilmu, di antaranya bisa disebut adalah : Ismail Raji Al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Fazlur Rahman, dan Ziauddin Sardar (Happy Susanto, 2008). Kemunculan ide “Islamisasi ilmu” tidak lepas dari ketimpangan-ketimpangan yang merupakan akibat langsung keterpisahan antara sains dan agama. Sekulerisme telah membuat sains sangat jauh dari kemungkinan untuk didekati melalui kajian agama. Pemikiran kalangan yang mengusung ide “Islamisasi ilmu” masih terkesan sporadis, dan belum terpadu menjadi sebuah pemikiran yang utuh. Akan tetapi, tema ini sejak kurun abad 15 H telah menjadi tema sentral di kalangan cendekiawan muslim.
Tokoh yang mengusulkan pertama kali upaya ini adalah filosof asal Palestina yang hijrah ke Amerika Serikat Isma’il Raji Al-Faruqi. Upaya yang dilakukan adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan pada pusatnya yaitu tauhid. Hal ini dimaksudkan agar ada koherensi antara ilmu pengetahuan dengan iman.
Upaya yang lainnya, yang merupakan antitesis dari usul yang pertama, adalah ilmuisasi Islam. Upaya ini diusung oleh Kuntowijoyo. Dia mengusulkan agar melakukan perumusan teori ilmu pengetahuan yang didasarkan kepada Al-Quran, menjadikan al-Quran sebagai suatu paradigma. Upaya yang dilakukan adalah objektifikasi. Islam dijadikan sebagai suatu ilmu yang objektif, sehingga ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Quran dapat dirasakan oleh seluruh alam (rahmatan lil ’alamin), tidak hanya untuk umat Islam tapi non-muslim juga bisa merasakan hasil dari objektifikasi ajaran Islam (Kuntowijoyo , 2004 : 7-11).
Oleh karena itu, penelitian mengenai perbandingan antara pemikiran Isma’il Raji Al-Faruqi dan Kuntowijoyo merupakan suatu langkah yang baik untuk dilakukan. Diharapkan nantinya akan ada gambaran yang jelas mengenai pemikiran kedua tokoh tersebut mengenai integrasi ilmu dan agama. Penelitian ini juga didukung oleh adanya sumber rujukan (literatur) mengenai pemikiran kedua tokoh ini.

teman-teman adzkiya

teman-teman adzkiya

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: